Akhir-akhir ini, aku merasa seperti orang paling bodoh. Aku merasa hanya akulah orang terdekatmu, tapi mungkin cuma aku yang paling jauh mengerti jalan pikirmu. Anggap saja aku selalu salah dan kau yang selalu benar. Tiap detik aku lewati dengan takut, takut kehilangan dan kesepian. Tiap detik, namaku semakin memudar, tergantikan oleh keegoisan kita. Aku ingin kita berteman dengan Sabar dan Pengertian. Demi lautan terdalam, aku menyayangimu dan takutku semakin menjadi ketika ego memisahkan.
Tolong, ajari aku untuk bersahabat dengan Sabar dan Pengertian. Beri aku contoh bagaimana namaku semakin kuat, untuk pada suatu saat aku mengalahkan ombak lautan. Demi rindu yang tak terbendung ini, akan kita lahirkan anak, bernama Restu. Biar dia yang akan selalu menemani hari kita sampai tua nanti. Ah, tentu saja sampai kita berjalan dengan tumpuan tongkat kebijaksanaan. Sebentar lagi sudah berganti fajar, ya. Jadi, maukah kau mengajariku? Bukankah langkah kita ke depan lebih berat? Ajari aku, Harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar